Terutama bagi para warga atau kampung yang berdekatan dengan Daerah Alisan Sungai (DAS) yang cukup besar mengingat lonjakan debit air cukup tinggi sehingga dapat membahayakan areal sekitar.
Hal ini disampaikan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, Roy Panagom Pardede melalui Humas BBWS Citanduy, Rahmat, Selasa (17/2/2026) siang kepada Liputanesia.
Menurutnya, akibat cuaca hujan yang ekstrem tinggi menyebabkan adanya beberapa kerusakan pada sedimen DAS di wilayah Sungai Citanduy.
Sepertl halnya yang terjadi di aliran Sungai Ciputra Haji yang terletak di Desa Sindangsari, Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
"Kondisi tersebut berdampak langsung pada stabilitas pasangan bronjong yang telah terpasang di lokasi pekerjaan," tegas Rahmat.
Berdasarkan hasil peninjauan tim teknis di lapangan, hasil identifikasi visual menunjukkan ditemukan beberapa bentuk kerusakan, antara lain:
- Bronjong mengalami pergeseran ke arah hilir/alur sungai (titik sliding ke arah hilir)
- Terjadi kemiringan struktur akibat kehilangan kestabilan.
- Indikasi tergerusnya material tanah dasar (scouring) pada bagian kaki bronjong/ bawah bronjong.
- Penurunan (amblas) pasangan bronjong sepanjang kurang lebih 16 meter.
- Pergeseran elevasi serta ketidakstabilan pada segmen terdampak.
- Indikasi erosi dan pelunakan tanah pada bagian kaki konstruksi.
"Sehingga pihak BBWS Citanduy saat ini tengah melakukan penanganan, " katanya.
Analisis Teknis
Dari hasil evaluasi visual dan kajian kondisi tanah setempat, kerusakan dipicu oleh kombinasi faktor hidrologi dan geoteknik serta adanya gaya hidrodinamis.Secara hidrologi, curah hujan ekstrem menyebabkan infiltrasi air secara masif ke dalam lapisan tanah dasar.
"Hal ini meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan kuat geser tanah atau menurunkan daya dukung tanah. Dan terjadi gerusan (scouring) pada kaki konstruksi akibat derasnya aliran permukaan," jelasnya.
Berdasarkan data, tercatat intensitas hujan pada pos curah hujan Sidamulih, kondisi hujan pada tanggal 9 Februari 2026 dan 10 Februari 2026 sebesar 107.5 mm/ hari dengan kategori hujan sangat lebat dan 54.5 mm/ hari dengan kategori hujan lebat.
Kemudian di tanggal 13 Februari 2026 terjadi hujan satu hari penuh dengan intensitas hujan tercatat sebesar 53 mm/hari dengan kategori hujan lebat.
"Begitu pun dengan pos hujan Cikupa, tanggal 9 Februari 2026 sebesar 63.5 mm/ hari dengan kategori hujan lebat, dan pada tanggal 13 Februari 2026 terjadi hujan satu hari penuh dengan inetsitas hujan tercatat sebesar 43.2 mm/hari dengan kategori hujan lebat," ujarnya.
Lebih lanjut, Rahmat menyampaikan, secara geoteknik, tanah dasar di lokasi memiliki daya dukung yang relatif rendah.
"Kondisi tersebut diperparah dengan terjadinya penurunan diferensial (differential settlement) pada area terdampak," paparnya.
Sementara dari sisi gaya Hidrodinamis, debit aliran yang meningkat drastis akibat hujan lebat menyebabkan bertambahnya gaya dorong horizontal dan tekanan air pori di belakang struktur meningkat, sehingga hal itu menyebabkan kerusakan pada pembangunan bronjong.
"Kejadian ini dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi yang berada di luar kondisi normal yang umumnya digunakan dalam perencanaan teknis," ucapnya.
Bahkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem di Indonesia masih terjadi hingga Maret 2026 mendatang.
Untuknya, pihaknya menghimbau bagi siapa saja terutama warga atau kampung yang berada didaerah dekat dsngan aliran sungai untuk selalu siap siaga atau waspada akan bencana.
"Dan segera melapor jika ada bencana baik ke pemerintahan setempat atau pun kepada kami jika ada yang mengalami kerusakan pada aliran sungai yang ada dibawah kewenangan kami," pintanya.
"Saat ini, BBWS Citanduy tengah melakukan langkah-langkah penanganan awal serta evaluasi lanjutan untuk menentukan metode perbaikan yang tepat, sekaligus mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang," pungkasnya.

.png)