Dalam mengikuti tradisi Merohom, masyarakat juga membawa serta nasi kuning, telur dan bunga warna warni yang dalam masyarakat Melayu menyebutnya 'Bunge Telo atau Bunga Telur'. Jumlah telurnya pun harus ganjil (5, 9, 11 dan seterusnya) yang berasal dari nilai Islam sebagai sendi tradisi.
Dalam kompleks makam tersebut terdapat 6 buah makam yakni makam Budayana, Wan Pok (Wan Empuk), Wan Malani, Wan Sri Beni, Tok Telani, dan makam Tok Hile (Tok Kelaun).
Kompleks dan tradisi di dalamnya terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar, didukung dengan pemugaran oleh Pemerintah Kabupaten Bintan yang kemudian menjadikan tradisi Kenduri Merohom Bukit Batu resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB Indonesia) oleh Menteri Kebudayaan RI pada 15 Desember 2025 lalu.
"Alhamdulillah, tradisi yang penuh dengan nilai historis dan sarat akan norma-norma luhur Melayu ini telah resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda. Ini semakin memperkuat semangat kita untuk terus melestarikan serta mewarisi tradisi ini ke anak cucu, takkan Melayu hilanh di bumi" ungkap Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Ronny Kartika, saat menghadiri Kenduri Merohom Bukit Batu, Jumat (16/01) di Kompleks Makam Marhum Bukit Batu, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan.
Ratusan masyarakat yang tumpah di areal makam pun larut dalam doa yang dipimpin Ketua Kampung. Penziarah sendiri didominasi masyarakat Bintan khususnya di Bukit Batu, namun tidak sedikit para penziarah dari luar wilayah seperti Kota Tanjungpinang dan Kota Batam.
Selain sebagai wujud pelestarian budaya, Kenduri Merohom Bukit Batu diharapkan dapat menjadi salah satu magnet wisatawan khususnya di sektor wisata budaya dan religi. Hal ini menunjukkan kekayaan potensi pariwisata di tanah Bintan yang dimula dari pesona alam, adat budaya, kuliner sampai pada wisata sejarah. []
(Nurdin)

