![]() |
| Nilai tukar rupiah melemah/Dok.Isti |
Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Aviliani, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi memberikan tekanan luas terhadap kondisi makroekonomi nasional, terutama bagi dunia usaha dan inflasi.
Aviliani berharap nilai tukar rupiah idealnya tidak melemah hingga menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Jika hal itu terjadi, dampaknya dinilai akan cukup berat bagi pelaku usaha.
“Kita berharap jangan sampai Rp 17.000 atau lebih ya. Karena memang itu akan berdampak pada dunia usaha,” kata dia, dalam acara “Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026” di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Aviliani mengatakan pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan beban utang luar negeri perusahaan sekaligus biaya impor. Sebab, sekitar 70% industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.
Dia meyakini Bank Indonesia (BI) akan berupaya menjaga stabilitas nilai tukar agar rupiah tidak melemah terlalu dalam.
Tetapi, tekanan terhadap rupiah saat ini dinilainya cukup kuat, terutama akibat keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan domestik.
“Yang terjadi memang kalau kita lihat dari data, investor asing itu dari SRBI keluar cukup banyak, hampir Rp 100 triliun. Lalu dari SBN totalnya hampir Rp 122 triliun,” ujar Aviliani.
Atas kondisi ini, dia berharap kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang akan diterapkan pemerintah dapat membantu menjaga cadangan devisa sekaligus menopang nilai tukar rupiah.
Dia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan ketersediaan likuiditas dolar di pasar.
“Sehingga kalau dolar mahal juga akan berdampak pada kredit dalam USD. Jadi ini harus dijaga keseimbangan antara peraturan DHE dengan likuiditas dolar di pasar, itu yang harus dijaga,” kata Aviliani.
Dikatakan pula, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada komoditas kedelai, tetapi juga sektor lain yang sangat bergantung pada impor, terutama sektor manufaktur.
Selain sektor industri, Aviliani juga menyoroti potensi dampak terhadap inflasi pangan.
Perhatian pemerintah selama ini, kata Aviliani, masih banyak tertuju pada beras. Padahal Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas pangan lainnya. “Nah ini juga akan berdampak pada inflasi pangan. Makanya itu perlu dijaga nilai tukar,” ucap dia.
Sebelumnya, BI mengungkapkan bahwa peningkatan tekanan di pasar keuangan global menjadi penyebab nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan hingga mendekati level 17.000.
Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea, tekanan pada pasar keuangan itu bersumber dari eskalasi tensi geopolitik.
Selain itu, dari kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun.
Kondisi ini mendorong nilai tukar rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per dolar AS pada Selasa lalu atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara tahunan (year-to-date/yoy). []
(YHr)

