![]() |
| Penasehat Majelis Pers Nasional (MPN) Gus Edi Al Ghoibi, Tulungagung, Selasa (10/2/2026)/Liputanesia/Dok. Liputanesia. |
Di tengah dominasi algoritma dan penetapan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, pers Indonesia sedang berada di persimpangan jalan: beradaptasi atau mati tergilas disinformasi.
Kualitas Adalah Harga Mati
Tantangan di tahun 2026 bukan lagi sekadar soal siapa yang paling cepat menyebarkan informasi, melainkan siapa yang paling otentik.Di era di mana konten visual dan teks dapat diproduksi dalam hitungan detik oleh mesin, peran wartawan sebagai "penjaga gerbang" kebenaran menjadi jauh lebih krusial.
Menanggapi fenomena ini, Gus Edi Al Ghoibi, selaku Penasehat Majlis Pers Nasional (MPN), memberikan semangat bagi para awak media. Beliau menegaskan bahwa jurnalis tidak boleh kalah oleh keadaan.
"Rekan-rekan insan pers harus lebih giat dan selalu menambah wawasan seiring zaman yang sudah maju. Ingat, mesin tidak punya nurani. Peran wartawan sebagai penjaga gerbang kebenaran kini semakin krusial di tengah gempuran konten buatan mesin," ujar Gus Edi.
Pilar Ketahanan Informasi
Berdasarkan pesan tersebut, ada tiga poin utama yang harus dipegang oleh insan pers di tahun 2026 :- Peningkatan Kapasitas: Wartawan wajib melek teknologi namun tetap kritis terhadap data yang dihasilkan ( AI )
- Otentisitas Lapangan: Kehadiran fisik jurnalis di lokasi kejadian adalah pembeda utama antara berita nyata dan fabrikasi algoritma.
- Integritas Moral: Menjaga marwah profesi dengan tetap berpegang pada kode etik jurnalisme yang tidak bisa digantikan oleh kode pemrograman.
(Sugeng Haryadi)

