Iklan

Iklan 970x250

,

Iklan

Menakar Nyali Pers di Tengah Pusaran Disrupsi AI 'Kualitas adalah Harga Mati'

Redaksi Liputanesia
10 Feb 2026, 13:28 WIB Last Updated 2026-02-10T06:30:34Z
Penasehat Majelis Pers Nasional (MPN) Gus Edi Al Ghoibi, Tulungagung, Selasa (10/2/2026)/Liputanesia/Dok. Liputanesia. 

Tulungagung - Tepat pada 9 Februari 2026, insan pers tanah air kembali memperingati Hari Pers Nasional (HPN). Namun, atmosfer peringatan tahun ini terasa lebih berat, Selasa (10/2/2026).

Di tengah dominasi algoritma dan penetapan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, pers Indonesia sedang berada di persimpangan jalan: beradaptasi atau mati tergilas disinformasi.

​Kualitas Adalah Harga Mati

​Tantangan di tahun 2026 bukan lagi sekadar soal siapa yang paling cepat menyebarkan informasi, melainkan siapa yang paling otentik.

Di era di mana konten visual dan teks dapat diproduksi dalam hitungan detik oleh mesin, peran wartawan sebagai "penjaga gerbang" kebenaran menjadi jauh lebih krusial.

​Menanggapi fenomena ini, Gus Edi Al Ghoibi, selaku Penasehat Majlis Pers Nasional (MPN), memberikan semangat bagi para awak media. Beliau menegaskan bahwa jurnalis tidak boleh kalah oleh keadaan.

"Rekan-rekan insan pers harus lebih giat dan selalu menambah wawasan seiring zaman yang sudah maju. Ingat, mesin tidak punya nurani. Peran wartawan sebagai penjaga gerbang kebenaran kini semakin krusial di tengah gempuran konten buatan mesin," ujar Gus Edi.

​Pilar Ketahanan Informasi

​Berdasarkan pesan tersebut, ada tiga poin utama yang harus dipegang oleh insan pers di tahun 2026 :

  • Peningkatan Kapasitas: Wartawan wajib melek teknologi namun tetap kritis terhadap data yang dihasilkan ( AI )
  • ​Otentisitas Lapangan: Kehadiran fisik jurnalis di lokasi kejadian adalah pembeda utama antara berita nyata dan fabrikasi algoritma.
  • ​Integritas Moral: Menjaga marwah profesi dengan tetap berpegang pada kode etik jurnalisme yang tidak bisa digantikan oleh kode pemrograman.

​Resume Refleksi HPN. Selamat Hari Pers Nasional 2026, semoga Insan Pers tetap menjadi suluh di tengah gelapnya hoaks dan disinformasi.

(Sugeng Haryadi)

Iklan