![]() |
| Safari Ramadan di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, Selasa (24/2/2026)/Liputanesia/Foto: Sugeng Hariyadi. |
Di bawah atap bersejarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Tulungagung menggelar Safari Ramadhan, sebuah ritual tahunan yang bukan sekadar seremonial, melainkan ruang refleksi bagi para pemangku kebijakan.
Agenda yang mempertemukan jajaran Forkopimda, Wakil Bupati, Sekda, hingga para ASN ini dimulai dengan barisan shaf yang rapat dalam Shalat Isya dan Tarawih berjamaah, menciptakan harmoni spiritual di tengah kesibukan birokrasi.
Sinergi untuk Kondusivitas
Dalam sambutannya, Bupati Tulungagung menitipkan pesan krusial mengenai stabilitas daerah. Beliau menegaskan bahwa kekhusyukan Ramadhan hingga menyongsong Idul Fitri 1447 H harus dibarengi dengan penjagaan rasa aman."Ramadhan adalah wahana penguatan iman sekaligus momentum sinergi. Kita semua bertanggung jawab menjaga agar Tulungagung tetap nyaman, kondusif, dan penuh kegiatan positif," tegas Bupati.
Puncak acara semakin berbobot saat H. Fuad Saiful Anam naik ke mimbar. Beliau membedah penyakit hati yang kerap menjadi kerikil dalam kehidupan manusia: iri dan dengki.
Melalui fragmen sejarah yang menyentuh, beliau mengisahkan momen saat Rasulullah SAW secara khusus meminta satu porsi makanan untuk diantarkan kepada seorang janda miskin, sebuah sedekah yang diniatkan atas nama almarhumah Siti Khadijah RA.
Kisah ini menyoroti sisi manusiawi Sayyidah Aisyah RA yang didera cemburu. Namun, di sinilah letak pelajarannya:
1. Kebijaksanaan Pemimpin Rasulullah merespons cemburu dengan penjelasan logis tentang perjuangan Khadijah, bukan dengan kemarahan.
2. Pengendalian Diri. Menegaskan bahwa perasaan manusiawi (seperti cemburu) adalah wajar, namun tidak boleh sampai "menutup mata hati." Konsistensi di Tengah Arus Protes.
3. Kehidupan bernegara. Beliau menggarisbawahi bahwa konsistensi dalam menyuarakan kebenaran adalah jalan sunyi yang penuh tantangan.
"Menyuarakan kebenaran sering kali memicu protes atau ketidaksukaan. Namun, itu bukan alasan untuk mundur," urai beliau.
Menurutnya, kesiapan menanggung konsekuensi adalah bentuk tertinggi dari mawas diri agar hati tidak tertutup oleh kabut kedengkian.
(Sugeng Hariyadi)

.png)