Pj Walikota Langsa Syaridin, memberikan sambutan mengenang 19 tahun Tsunami, Minggu (31/12) di Masjid Agung Kota Langsa, Liputanesia/H5J. |
Kota Langsa - Mengenang 19 Tahun Tsunami Aceh, Pemerintah Kota (Pemko) menggelar Dzikir dan Tausyiah dimalam tahun baru.
Kegiatan diawali Shalat Isya berjamaah, dan bershalawat badar serta zikir, dipimpin oleh Tgk. Nasruddin, sementara tausyiah diisi oleh Abi Syarkawi M Jamil, di Masjid Agung Darul Falah, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Gampong Peukan, Kecamatan Langsa Kota, Minggu (31/12/2023).
Pj. Walikota Langsa Syaridin, dalam sambutannya mengatakan, acara dzikir dan tausyiah dalam rangka mengenang 19 tahun tsunami Aceh, Insya Allah dapat menambah spirit kita dan mengalirkan energi positif untuk kita semua dalam meningkatkan kualitas iman dan takwa serta rasa syukur kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmatnya yang tiada tara.
"Musibah dan nikmat Allah, adalah dua hal yang berbeda, tetapi semuanya bermuara kepada Ibadah bila kita mampu menyikapinya dengan baik. Dimana ketika musibah kita dituntut untuk bersabar dan ketika kita memperoleh kenikmatan, maka kita dituntut untuk bersyukur kepada Nya," ajaknya.
Dengan bersyukur, maka sungguh Allah SWT akan menambah nikmatnya kepada kita. Seperti Firman Allah SWT dalam Alqur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya, "Dan (ingatlah) tatkala Pemelihara kalian mengumumkan bahwasanya jika kalian bersyukur, maka sungguh Aku akan tambah untuk kalian (akan nikmat). Dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih, kata Syaridin.
"Merujuk kepada ayat tersebut, sebagai umatnya, tentu kita harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik dan buruk adalah atas izin dan kekuasaan dari Allah Semata. Kita manusia hanya mampu berikhtiar dan doa, sedangkan takdir merupakan kehendak Allah SWT," ujar Pj Walikota Langsa.
Dalam rentetan waktu yang kita jalani di kehidupan ini, tentu ada banyak rintangan dan tantangan, baik suka maupun duka, tentu dibalik semua itu tersimpan pelajaran, hikmah serta kebaikan jika kita mau terus renungi dan mengambil ibrah dari setiap kejadian, karena hakikatnya kita Hamba Allah mestilah selalu bersyukur dan bersabar.
Selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan dan selalu bersabar ketika Menerima cobaan dari Allah SWT. Sehingga kita semua tergolong kepada orang-orang yang beruntung dan selalu dalam Lindungan Allah SWT, ungkap Pj Walikota Syaridin.
Abi Syarkawi M Jamil, yang merupakan Pimpinan Dayah Jamilul Huda Kabupaten Aceh Tamiang, mengatakan Alhamdulillah ditengah hiruk pikuknya malam tahun baru masehi masyarakat kota langsa yang hadir dengan hikmah mengikuti agenda zikir dan tausyiah malam ini datang karena rasa keimanan yang mungkin tidak semua orang miliki.
Dalam sebuah hikayat, Nabi Musa AS, pernah mengadu kepada Allah SWT, “Ya, Allah! mengapa Engkau menghukum orang tidak berdosa hanya karena mereka hidup bersama di lingkungan orang-orang yang berbuat dosa.”
Allah SWT tidak menjawab keluhan Nabi Musa AS tersebut, dengan perasaan kecewa dan sedikit kesal, Nabi Musa duduk di atas sebatang kayu lapuk. Tidak lama setelah duduk, tiba-tiba pantatnya digigit seekor semut. Ia marah, kemudian semut-semut yang berada di atas kayu diusirnya.
“Nabi Musa AS marah kepada semua semut yang berada di sekitar batang kayu, padahal yang menggigit pantatnya hanya seekor semut. Hal tersebut dikarenakan semut yang berada di sekitarnya tidak peduli terhadap perbuatan buruk semut yang menggigit Nabi Musa,” jelasnya.
Jawaban Allah SWT atas keluhan Nabi Musa mirip dengan perumpamaan penumpang perahu yang digambarkan Nabi Muhammad SAW. Beliau menggambarkan orang bermasyarakat, seperti penumpang perahu. Diantara penumpang ada yang iseng melubangi perahu, sementara penumpang lain diam, tidak peduli, dengan dalih itu bukan urusannya. Akibatnya, ketika perahu itu bocor, air masuk ke dalam, kemudian perahu tenggelam. Ketika perahu tenggelam yang celaka bukan hanya pembocor perahu, melainkan semua penumpang, ujarnya.
Secara lengkap perumpamaan itu dituturkan Rasulullah SAW, “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti suatu kaum yang melakukan undian dalam sebuah kapal. Maka, sebagian (penumpang) berada di atas dan sebagian yang lain di bawah. Dan, penumpang bagian bawah jika akan mengambil air melewati penumpang yang di atas. Dan suatu saat berkata: Kalau kita lubangi kapal ini (untuk mengambil air), mungkin tidak mengganggu orang yang di atas. Jika mereka membiarkan saja orang yang melubangi kapal maka semuanya akan hancur, tetapi jika dilarang, maka mereka semua selamat.” (HR Bukhari).
Dua cerita di atas menggambarkan esensi amar makruf nahi mungkar. Jika pada satu lingkungan masyarakat terjadi kemungkaran, tapi dibiarkan oleh orang-orang baik dengan alasan bukan urusannya maka kalau lingkungan tersebut mendapat azab, imbasnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku kejahatan, tapi juga oleh semua orang yang ada di sekitarnya.
Sebaliknya, jika orang-orang baik itu memiliki kepedulian, kemudian melakukan pencegahan melalui tindak amar maruf nahi mungkar maka yang selamat tidak hanya pembuat kejahatan, tapi semua orang yang berada di sekitarnya.
Jika kita tidak mau diazab dan doa ditolak oleh Allah SWT maka jangan biarkan perahu kehidupan dibocori oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Cegahlah perbuatan buruk mereka sebatas kemampuan kita melalui dakwah amar makruf nahi mungkar sebagaimana sabda Nabi SAW.
“Barangsiapa yang melihat kemungkaran di antaramu, maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa maka dengan hatinya. Yang demikian itu (mengubah dengan hati) termasuk selemah-lemahnya iman,” ( HR Muslim), tutup Abi Syarkawi M. Jamil.