Iklan

Iklan 970x250

,

Iklan

Rehabilitasi Rp2,8 Miliar, Irigasi Wangundirja Cisaga Malah Seret Puluhan Hektare Sawah Kering

Heru Pramono
28 April 2026, 20:31 WIB Last Updated 2026-04-28T13:31:00Z
Camat Cisaga, Aman (tengah baju coklat Pdh), Kepala UPTD SDA Wilayah Citanduy, Dinas SDA Jabar, Sonie Apriyanto (kiri kedua), Anggota DPRD Ciamis, Eson Suryadi (kedua kanan) di Aula Desa Karyamulya, Kecamatan Cisaga, Ciamis, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026) siang.

Ciamis - Warga empat desa di Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat menuai kontra akibat adanya proyek rehabilitasi Irigasi Wangundirja dinilai belum bermanfaat. Padahal proyek itu menelan anggaran Rp2,8 miliar dalam dua tahun terakhir ini.

Keluhan warga itu sebetulnya sudah mencuat sebelumnya hingga kini diadakan musyawarah atau diskusi bersama dengan Kepala UPTD PSDA Wilayah Sungai Citanduy Dinas SDA Jabar, Sonie Apriyanto, di Aula Desa Karyamulya, Kecamatan Cisaga, Ciamis, Selasa (28/4/2026) siang.

Empat desa terdampak yakni Karyamulya, Wangunjaya, Cisaga, dan Mekarmukti. Warga menyebut, sejak rehabilitasi tahap I tahun 2024, aliran air ke sawah mulai tersendat. Selanjutnya, perbaikan tahap II tahun 2025 kemarin pun tidak mengubah kondisi.

“Dampaknya, puluhan hektare sawah kekeringan. Sekarang banyak sawah jadi kebun, bahkan dibiarkan jadi semak,” terang beberapa warga yang mengikuti rapat atau diskusi tersebut.

DPRD Soroti Kejanggalan Teknis

Anggota DPRD Kabupaten Ciamis, Eson Suryadi, heran irigasi yang dulu jadi tulang punggung pertanian kini bermasalah.

“Dulu airnya sampai ke Purwaharja Kota Banjar. Sekarang teknologi sudah modern, kenapa malah begini?” ujarnya aneh.

Ia menduga ada persoalan teknis. Salah satunya elevasi saluran tersier yang lebih tinggi dari saluran induk.

“Saya minta dicek ulang elevasinya. Bahkan patok ukur di lapangan tidak ditemukan,” tegasnya.

Dari total 200 hektare lahan yang bergantung irigasi, sekitar 40 hektare kini kekeringan. Eson juga menyinggung minimnya sosialisasi saat proyek 2024.

“Kita ingin irigasi ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” tandas Eson Suryadi yang juga mantan pegawai Kementerian PUPR ini.

Bendung Cihampelung Lumpuh

Kepala Desa Karyamulya, Dudung, menyebutkan, masalah utama ada di hulu. Bendung Cihampelung mengalami pendangkalan parah.

“Sejak awal kami sudah ingatkan, rehabilitasi harus dari hulu ke hilir. Tapi tidak diakomodasi. Kalau hulunya tidak dibenahi, percuma buang-buang anggaran,” ungkap Dudung.

Ia juga mengeluhkan kontraktor yang minim koordinasi dan masih berutang ke warga. “Masih ada utang ke warung, jasa lansir belum dibayar, termasuk sewa direksi kit,” ucapnya.

50 Hektare Sawah Tak Digarap

Sementara itu, Kepala Desa Cisaga, M. Toha, menyebut 50 hektare sawah di wilayahnya tak bisa digarap karena tak dapat air. Lahan tersebar di Dusun Cipurut, Cimanggu, Cikunten, dan Mulyajaya.

“Karena tak ada air bertahun-tahun, sebagian jadi kebun, sisanya jadi semak,” terangnya. Menurut Toha, percuma perbaiki saluran jika sumber air utama lumpuh. “Bendung Cihampelung sudah lumpuh. Itu yang harus jadi prioritas,” tegasnya.

300 Titik Oncoran Ilegal

Dalam forum diskusi itu pun terungkap ada lebih dari 300 titik pengambilan air ilegal atau oncoran di sepanjang saluran.

Sementara Camat Cisaga, Aman menyatakan "siap memfasilitasi diskusi lintas desa untuk penanganan," katanya.

Pemprov Jabar Janji Normalisasi

Selanjutnya, Kepala UPTD PSDA Wilayah Sungai Citanduy, SDA Provinsi Jawa Barat, Sonie Apriyanto, berjanji akan segera turun tangan.

Pihaknya akan menurunkan alat berat untuk normalisasi bendung di hulu. “Mudah-mudahan minggu depan bisa mulai kita siapkan dulu,” ucapnya.

Menaggapi keinginan warga atau hasil diskusi tadi siang, menginginkan adanya pengukuran elevasi, pihaknya berjanji akan melakukan cek ulang ke lapangan.

Sonie menekankan perlunya sinergi semua pihak untuk menertibkan oncoran ilegal. “Pengelolaan irigasi tidak bisa hanya bergantung kepada pemerintah, namun butuh partisipasi aktif langsung dari masyarakat,” pungkas Sonie Apriyanto.

Iklan