![]() |
| SPPI Ratawangi 2 Banjarsari, Ciamis, Riad Abdul Wasi (kiri) dan Aslap Randi (kanan), Senin (18/04/2026) di Ruang Tamu (Foto: Dok. Heru Pramono/Liputanesia) |
Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Ratawangi 2 Kecamatan Banjarsari, Riad Abdul Wasi didampingi Asisten Lapangan (Aslap), Randi kepada Liputanesia mengatakan, pihak SPPG tetap menerapkan pedoman Standard Operating Procedure (SOP) dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kita terapkan sesuai SOP BGN. Para relawan juga sudah mengikuti pelatihan penjamah makanan (bersertifikat), jadi paham soal sanitasi dan personal higiene makanan,” terangnya, Senin, (18/4/2026) di Ruang Tamunya.
Riad menjelaskan, bahwa proses SLHS sedang di proses. Untuk SLHS Penjamah dan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) atau IPAL nya, kami sudah ada. Tinggal uji laboratorium mengenai air yang belum keluar.
"Sudah dua kali pihak dapur melakukan uji lab dan hasilnya belum sempurna," jelasnya.
Meski belum keluar SLHS, langkah antisipasi, di dapur kami menjamin keamanan pangan sampai saat ini menggunakan air kemasan yang bersertifikat khusus untuk memasak.
“Untuk masak kita menggunakan air galon bersertifikat. Sehari bisa habis 30 galon lebih karena produksi nasi persekali masak bisa habis kisaran antara 120–230 kg beras,” tegasnya.
Sementara untuk mencuci peralatan dan bahan olahan, dapur menggunakan air sumur gali dan terkadang menggunakan Air isi ulang hasil Reverse Osmosis (RO) namun untuk RO kebanyakan untuk konsumsi para relawan.
Berkenaan dengan limbah atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), di dapur kami, "alhamdulillah sudah keluar dengan prosentase hasil pemeriksaan mencapai 98 Persen (%) artinya itu sudah masuk kategori standar, " ujarnya.
![]() |
| SPPI Kawasen 2, Kecamatan Banjarsari, Ciamis, Azi Ahmanul H, Senin (18/04/2026) di Depan Dapur SPPGnya. (Foto: Dok. Heru Pramono/Liputanesia) |
Di tempat terpisah, hal serupa disampaikan, SPPI Kawasen 2, Kecamatan Banjarsari, Azi Ahmanul, meski SLHS belum terbit, SPPG memastikan keamanan pangan tetap diutamakan melalui pengawasan penuh dari ahli gizi dan Asisten Lapangan (Aslap).
"Ahli gizi dan Aslap melakukan pengawasan yang ketat setiap hari untuk memastikan standar sanitasi, personal higiene, hingga suhu penyajian makanan terpenuhi," tegasnya.
Fokus SOP dan Pengawasan Ketat
Mulai dari bahan baku datang hingga makanan siap santap, keamanan pangan tetap terjamin meski SLHS belum keluar."Aspek higiene makanan tetap diutamakan, termasuk penggunaan air kemasan yang bersertifikat untuk memasak dan air galon RO untuk minum relawan dan mencuci bahan olahan," ujarnya.
Lebih lanjut, Azi mengungkapkan, mengenai IPAL, kami sedang proses pengoptimalan, mengingat kami berencana akan menggunakan mesin penggerak.
"Dengan tujuan memastikan proses pengolahan air limbah berjalan secara efektif dan memenuhi standar lingkungan," pungkasnya.


