Iklan

Iklan 970x250

,

Iklan

Kondisi Ekonomi RI Masih Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global

Redaksi Liputanesia
14 Apr 2026, 16:31 WIB Last Updated 2026-04-14T09:31:00Z
Gambar Ilustrasi.

Jakarta - Kondisi ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global dan jauh berbeda dibanding krisis 1998.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11%, menjadi yang tertinggi kedua di antara negara G20 setelah India.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan hal itu dalam media briefing di Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).

Di luar itu, defisit anggaran Indonesia juga tetap terjaga di bawah 3%, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Perancis, maupun India.

“Jauh berbeda dengan situasi 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB adalah 5,11%. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3%. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5%,” ujar Airlangga dalam media briefing di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang hanya berada di kisaran 2,6% hingga 3,3% menurut IMF dan Bank Dunia, Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh di atas 5% pada 2026.

Bahkan, lanjut Airlangga, berdasarkan laporan Bloomberg, peluang Indonesia mengalami resesi tergolong rendah, hanya sekitar 5%.

Angka ini lebih kecil dibandingkan negara lain seperti Brasil dan China yang masing-masing 15%, serta Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 30%.

Menurut Airlangga, ketahanan ekonomi nasional ditopang oleh kuatnya permintaan domestik yang berkontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sebab, ketahanan pangan dan energi juga menjadi faktor penting penopang stabilitas. Indonesia, katanya, telah mencapai swasembada beras sejak 2025 dengan produksi mencapai 34,7 juta ton dan cadangan beras Bulog sebesar 4,6 juta ton per April 2026, tertinggi sepanjang sejarah.

Di sektor energi, pemerintah terus mendorong penguatan melalui program biodiesel B50, pengembangan energi surya, serta peningkatan kapasitas kilang minyak.

Dari sisi fiskal, APBN tetap berperan sebagai peredam guncangan ekonomi. Pemerintah menyalurkan berbagai bantuan sosial sekaligus menjaga penerimaan negara tetap tumbuh.

Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% secara tahunan, dengan defisit tetap terkendali.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga berada pada level aman. “Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar 148,2 miliar dollar AS, itu setara dengan enam bulan impor,” kata Airlangga.

Tingkat kemiskinan tercatat turun menjadi 8,25%, tingkat pengangguran menjadi 4,7%, serta rasio ketimpangan (gini ratio) menurun ke 0,363.

Sementara itu, rasio utang pemerintah berada di level 40,46% terhadap PDB atau sekitar Rp 9.637,9 triliun.

Struktur utang yang didominasi domestik membuat risiko terhadap gejolak eksternal relatif terkendali.

“Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,” pungkas Menko Airlangga. []

(YHr)

Iklan